Selasa, 26 Juni 2012

Mulai lagi dari level 1

Pernahkah kita main game? Di PC, HP atau PSP? Bagaimana rasanya? Jika kita menyukai salah satu dari game yang kita mainkan, kita tidak akan merasa bosan, malah ingin mengulangi memainkannya secara terus menerus. Begitu juga harusnya kita dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan. Tinggal kita rubah mindset anggap masalah yang kita hadapi menjadi seperti game yang kita sukai dan sering kita mainkan, dan tentu saja setiap game selalu dimulai dari Level 1.. :)

Air Membelah Batu.

Perhatikanlah air yang mengalir, dari sela-sela bebatuan meluncur pasti. Ada yang lembut membelai. Aliran air yang lembut,  pelan namun terus menerus tersebut dapat mendorong batu yang kecil dan bahkan pada suatu saat malah bisa membelah batu yang besar. Sungguh luar biasa. Begitupun hati manusia, dengan ucapan yang lembut, perlahan, tegas dan terus menerus akan bisa melembutkan hati manusia menuju akhlak yang sempurna.

Senin, 25 Juni 2012

50:50 Communication

Hidup ini harus adil, menurutku. Begitupun dengan cara kita berkomunikasi satu sama lain. Walaupun ada orang yang cenderung pendiam, ada juga orang yang cenderung dominan dalam berkomunikasi dengan orang lain, tapi aku lebih memilih dan setuju dengan cara berkomunikasi 50:50, mendengar dan berbicara yang seimbang. Kita tidak boleh juga mendominasi pembicaraan, dan juga tidak boleh menjadi pendengar yang sangat baik, walaupun tidak disetiap pembicaraan atau dialog hal ini bisa diterapkan, namun minimal kita memiliki panduan bahwa jangan sampai kita menjadi dominan atau menjadi pendiam. Karena hak untuk bicara dan didengarkan merupakan hasrat setiap orang.. :).

Kangen & Bersyukur Setiap Waktu

Ketika aku gundah dan risau, aku mencoba untuk bersyukur kepada Allah. Ketika aku merasa lemah, kucoba mengingat semua kebaikan dan pemberian Allah padaku. Setiap hembusan nafasku, detik waktu yang kulewati, panca indera yang ada padaku, dan segala nikmat yang telah dianugerahkannya padaku, nikmat akal sehat, keyakinan, semangat, cinta, adalah tak ternilai. Kutarik nafas perlahan, kuingat segala kebesarannya, kulantunkan zikir di dalam hati dan di lisanku, membuat masalah terasa menjadi lebih ringan dan mudah diselesaikan. Walaupun penyakitnya, aku sering lupa untuk bersyukur, lalai dalam mengingat dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah, ketika masalah datang baru ingat.. :) dasar manusia.. Ya Allah yang maha membolak-balik hati, jadikan aku dan seluruh keluargaku, dan kaum muslimin muslimat, menjadi hambamu yang pandai dan selalu bersyukur..  :)

Tes

Tes

Bahayanya Rakus dan Serakah?

Tahukan kita apa penyebab krisis moneter tahun 1998 yang mengakibatkan semua harga barang-barang pokok mahal sehingga kita kehilangan kemampuan membeli barang kebutuhan kita disebabkan income kita juga tidak bertambah. Kalau untuk yang satu ini begini ceritanya yang didapat dari berbagai sumber yang tentu saja kupercaya, kalau pembaca mau percaya dan keterima logika ya Syukur Alhamdulilllah. Jadi, para pemilik uang yang notabene para Yahudi memberikan pinjaman yang banyak sekali kepada pengusaha-pengusaha yang tentu saja ingin mengembangkan usahanya sekaligus memenuhi hasras rakus dalam setiap diri manusia. Pinjamaan dalam bentuk dollar yang harganya taruhlah masih Rp 2.000 untuk 1 dollar Amerika. Pelan-pelan utangpun bertambah, bisnis dijalankan, ada untung pinjam lagi untuk memperbesar usaha dan memuaskan sifat rakus manusia. Begitu banyak pengusahan yang berhutang, banyak sekali. Hingga pada suatu saat para pemilik uang itu/yahudi, misalnya George Soros dengan uangnya yang tak terbatas, membeli semua dollar yang seharga 2.000 itu. Habislah dollar di pasaran. Karena dollar susah dicari, sementara utang mesti dibayar dalam bentuk dollar, maka naiklah harga dollar karena banyak yang mencari. Jadilah harganya menembus level Rp.15.000. Bagaimana pengusaha mau membayar hutangnya dalam bentuk dollar, karena dia simpan dalam bentuk rupiah, keuntungan dalam rupiah, mau bayar utang yang sekarang udah naik berlipat-lipat maka tumpurlah pengusaha-pengusahan yang meminjam uang dalam bentuk dollar itu, juga dia tak menyimpan banyak dollar. Walaupun bisnis sektor riil kelihatannya tak terimbas, memang kalau produksinya murni dari dalam negeri maka tak akan terkena imbas. Misalnya petani coklat, tanahnya punya sendiri,tanamannya beli pakai rupiah, pupuknya pupuk kandang, atau pupuk kimia buatan dalam negeri, dollar naik yah ga pengaruh, apalagi coklatnya dijual ke luar negeri dihargai pakai dollar, jadi ya bisa langsung beli rumah dan mobil dong..